Selasa, 20 Maret 2012

Ilmu Budaya Dasar (Softskill)


Manusia dan kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat sekali terkait satu sama lain. Dalam pembahasan awal mengenai mata kuliah IBD kita sudah bicarakan bahwa kedua hal tersebut merupakan dasar bagi pembahasan materi – materi selanjutnya. Dalam uraian ini kita akan mencoba membahas tentang pengertian – pengertian dasar tentang manusia dan kebudayaan. Uraian ini dimaksudkan untuk memberikan dasar yang lebih kuat pembahasan tentang materi IBD.
A.    Manusia
Manusia di alam dunia memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi. Dalam ilmu eksakta, mausia dipandang sebagai kumpulan dari partikel – partikel atom yang membentuk jaringan – jaringan system yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai system fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energy (ilmu fisika), manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu social manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan mahluk social yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik), mahluk yang berbudaya, sering disebut homo – humanus (filsafat), dan lain sebagainya.
Dari definisi – definisi tersebut diatas kita dapat melihat bahwa manusia selain dapat dipandang dari banyak segi, juga mempunyai banyak kepentingan. Tetapi siapakah manusia itu sebenarnya ? dengan berdasar pada uraian diatas tentu kita akan mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut, oleh karena itu kita akan mencoba menerangkan siapa manusia itu dari unsur – unsur yang membangun manusia.
Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur – unsur yang membangun manusia :

1.      Manusia itu terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu
a.         Jasad yaitu : badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto dan menempati ruang dan waktu.
b.         Hayat, yaitu : mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak
c.         Ruh, yaitu : bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan
d.        Nafs, dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri
2.        Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu :
a       Id, yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitive dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni, atau energy psikis yang menunjukkan cirri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses – proses ketidaksadaran (unconscious). Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting id dengan dunia luar. Terkukung dari realitas dan pengaruh social, id diatur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingtual libidinal yang harus dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual, atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan. Proses pemenuhan kepuasan yang disebutkan terakhir yang dilakukan secara tidak langsung disebut sebagai proses primer. Obyek yang nyata dari pemuasan kebutuhan langsung dalam prinsip kesenangan ditentukan oleh tahap psikoteseksual dari perkembangan individual.
b      Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energy id ke dalam saluran social yang dapat di mengerti oleh orang lain. Perkembangan ego terjadi antara usia satu dan dua tahun, pada saat anak secara nyata berhubungan dengan lingkungannya. Ego diatur laku sehingga dorongan instingtual id dapat dipuaskan dengan cara yang dapat diterima. Pencapaian obyek – obyek khusus untuk mengurangi energy libidinal dengan cara yang dalam lingkungan social dapat diterima disebut sebagai proses sekunder .
c       Superego, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira – kira pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan id dan ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego merupakan kesatuan standar – standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan – pandangan orang tua, baik aspek negative maupun positif dari standar moral tingkah laku ini diwakilkan atau ditunjukkan oleh superego. Kode moral positif disebut ego ideal, suatu perwakilan dari tingkah laku yang tepat bagi individu untuk dilakukan. Kesadaran membentuk aspek negative dari superego, dan membentuk hal – hal mana yang termasuk dalam kategori tabu, yang mengatur bahwa penyimpangan dari aturan tersebut akan menyebabkan dikenakannya sangsi. Superego dan id berada dalam kondisi konflik langsung, dan ego menjadi penengah atau mediator. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam derajat tertentu menghasilkan control diri melalui system imbalan dan hukuman yang terinternalisai.

            Dari uraian diatas dapat mengkaji aspek tindakan manusia dengan analis hubungan tindakan dan unsur – unsur manusia. Seringkali, misalnya orang yang senang terhadap penyimpangan terhadap nilai – nilai masyarakat dapat di identifikasi bahwa orang tersebut lebih dikendalikan oleh id dibanding super ego-nya, atau seringkali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan mengacu pada unsur nafs (kesadaran diri) yang dimilki oleh manusia. Kesemua unsur tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia.


B.     HAKEKAT MANUSIA
a          Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
            Tubuh adalah materi yang dapat dilihat, diraba,,dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia itu meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran. Jiwa adalah roh yang ada didalam tubuh manusia sebagai penggerak dan sumber kehidupan.
b          Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingakan dengan mahluk lainnya.
            Kesempurnaanya terletak pada abad dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh penciptanya dengan akal, perasaan, dan khendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan akal (ratio) manusia mampu menciptkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya nilai baik dan buruk, mengharuskan manusia mampu mempertimbangkan , menilai dan berkhendak menciptakan kebenaran, keindahan, kebaikan dan sebaliknya. Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Daya rasa (perasaan) dalam diri manusia itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui pancaindra, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
1.        Perasaan intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Seseorang merasa senang atau puas apabila ia mengetahui sesuatu, sebaliknya tidak senang atau tidak puas apabila ia tidak berhasil mengetahui sesuatu.
2.        Perasaan estestis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan keindahan. Seseorang merasa senang apabila ia melihat atau mendengar sesuatu yang indah, sebaliknya timbul perasaan kesel apabila tidak indah.
3.        Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Seseorang merasa senang apabila sesuatu itu baik, sebaliknya perasaan benci apabila sesuatu itu jahat.
4.        Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya, ia merasa tinggi, angkuh, dan sombong, sebaliknya apabila ada kekurangan pada dirinya ia merasa rendah diri (minder).
5.        Perasaan social, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain. Apabila orang berhasil, ia ikut senang, apabila orang gagal, memperoleh musibah, ia ikut sedih.
6.        Perasaan religious, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Seseorang merasa tentram jiwanya apabila ia tawakal kepada Tuhan, yaitu mematuhi segala perintah – Nya dan menjauhi larangan – Nya.
       Adanya kehendak dari setiap manusia mampu menciptakan perilaku tentang kebaikan menurut moral.
c           Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi
            Manusia adalah produk dari saling tindak atau interaksi factor – factor hayati dan budayawi. Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi – segi anatomi, fisilogi atau faal, biokimia, psikobiologi, patologi, genetika, biodemografi, evolusibilogisnya, dan sebagainya. Sebagai mahluk budayawi manusia dapat dipelajari dari segi – segi : kemasyarakatan, kekerabatan, psikologi social, kesenian, ekonomi, perkakas, bahasa, dan sebagainya.
d          Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
            Soren Kienkegaard seorang filsuf Denmark pelopor ajaran “eksistensialisme: memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamiah pula.
            Hidup manusia mempunyai tiga taraf, yaitu estetis, etis dan religious. Dengan kehidupan estetis, manusia mampu menangkap dunia sekitarnya sebagai dunia yang mengagumkan dan mengungkapkan kembali (karya) dalam lukisan, tarian, nyanyian yang indah. Dengan etis, manusia meningkatkan kehidupan estetis ke dalam tingkatan manusiawi dalam bentuk – bentuk keputusan bebas dan dipertanggungjawabkan. Dengan kehidupan religious, manuisa menghayati pertemuannya dengan Tuhan.
            Semakin dekat seseorang dengan Tuhan, semakin dekat pula ia menuju kesempurnaan dan semakin jauh ia dilepaskan dari rasa kekhawatiran. Semakin mendalam penghayatan terhadapt Tuhan semakin bermakna pula kehidupannya, dan akan terungkap pula kenyataan manusia individual atau kenyataan manusia subyektif yang memiliki harkat dan martabat tinggi.
C.    KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR
            Francis L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang menkombinasikan dalam dirinya keahlian didalam ilmu antropologi,ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik. Karya tulisnya berjudul Psychological Homeostatis Cina Klasik. Majalah Amercan Antrhropologist, jilid 73 tahun 1971, halaman 23-24.
            Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri.
            Sampai sekarang, ilmu psikologi di Negara – Negara barat itu terutama mengembangkan konsep –konsep dan teori – teori mengenai area warna isi jiwa, serta metode – metode dan alat – alat untuk menganalisi dan mengukur secara detail isi jiwa individu itu. Sebaliknya, ilmu itu masih kurang mengembangkan konsep – konsep yang dapat menganalisi jaringan berkait antara jiwa individu dan lingkungan social budayanya.
            Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subyek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai social budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah – olah seperti lingkaran – lingkaran konsentris sekitar diri pribadi.
            Nomor 7 dan nomor 6 disebut daerah tak sadar dan su sadar. Kedua lingkaran berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan. Bahan pemikiran dan gagasan tadi sering tidak utuh lagi, beberapa nagian sudaj hilang terlupakan, dan unsur – unsurnya ibarat isi impian sudah tidak lagi tersusun menurut logika yang biasa dianut manusia dalam hidupnya sehari –hari. Individu yang bersangkutan sudah lupa akan unsur – unsur pikiran dan gagasan tersebut, tetapi dalam keadaan tertentu unsur –unsur itu bias meledak keluar lagi dan mengganggu kebiasaan hidup sehari –harinya. Daerah pedalaman dan jiwa manusia sudah banyak diteliti dan dianalisis oleh para ahli psikoanalisis seperti Sigmund freud dan pengikut – pengikutnya.
            Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan (unexpressed conscious). Lingkaran itu terdiri dari pikiran – pikiran dan gagasan – gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan, tetapi disimpannya saja di dalam alam jiwanya endiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Hal itu disebabkan ada kemungkinan, bahwa :
a      Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau karena ia punya maksud jahat.
b     Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapat respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut bahwa walaupun diberi respons, respons itu sebenarnya tak diberikan dengan hati yang ikhlas atau juga karena ia takut ditolak mentah – mentah.
c      Ia malu karena takut ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam
d     Ia tidak bisa menemukan kata – kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya,
            Nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious). Lingkaran ini di dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran – pikiran, gagasan – gagasan , dan perasaan –perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu kepada sesamanya, yang dengan mudah diterima dan dijawab oleh sesamanya. Simpati, kemarahan, kebencian, rasa puas , rasa senang, kegembiraan, rasa terima kasih, konsep – konsep tentang tata cara hidup sehari –hari, pnegetahuan yang dipahami juga oleh umum, adat istiadat sehari – hari, peraturan – peraturan , sopan santun dan sebagainya yang dikenal semua orang, menjadi bahan aktifitas berfikir dan pencetusan emosi manusia dari waktu ke waktu.
            Nomor 3 disebut  lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang – orang, binatang-binatang, atau benda – benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bias dipakai sebagai tempat berlindung dan tempat mencurahkan isi hati apabila ia sedang terkena tekanan batin atau dikejar – kejar oleh kesedihan dan oleh masalah – masalah hidup yang menyulitkan. Orang tua, saudara sekandung, kerabat dekat, sahabat karib, biasanya merupakan penghuni penting dari daerah nomor 3 dalam alam pikiran manusia ini, yang kecuali oleh tokoh – tokoh manusia sering ditempati oleh pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan terhadap binatang kesayangan, benda kesayangan, benda pusaka dan juga oleh hal – hal , ide – ide atau ideology – ideology yang dapat menjadi sasaran kebaktian penuh dari jiwanya, seperti Tuhan bagi kita, ruh nenek moyang bagi orang bereligi animis, ideology komunis bagi orang komunis dan sebagainya.
            Nomor 2 disebut lingkungan hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap sayang dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang atau benda – benda itu bagi dirinya. Bagi seorang murid, guru berada didaerah lingkungan 2 dari alam pikirannya; bagi seorang pedagang, para pembelinya ada di situ; bagi seorang tukang cukur, langganannnya berada di situ dan sebagainya. Kecuali manusia, juga banyak benda dan alat kehidupan sehari – hari yang dipergunakan manusia secara otomatis, tanpa banyak mengeluarkan perasaan, kecakapan atau tenaga, berada juga di daerah lingkaran nomor 2 itu. Contoh dari benda – benda yang terletak pada lingkaran itu adalah pakaian harian, alat-alat makan, perabot rumah tangga, uang dan sebagainya.
            Nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda – benda, alat – alat, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari – hari. Bagi petani jawa di desa – desa di Jawa tengah, pandangan mereka tentang kota Jakarta mungkin terletak dalam daerah lingkaran ini , bagi seorang mandor jalan di Jawa Timur, pandangan tentang computer IBM 1130 dari Departemen PUTL di Jakarta terletak dalam daerah lingkaran ini. Mungkin orang – orang tadi akan kagum apabila mereka mendengar mengenai hal – hal tersebut, tetapi sesudah itu tak ada kelanjutan lebih jauh dari kekaguman tadi karena bagi hal – hal tersebut di atas tak ada tempat dan fungsi langsung dalam kehidupan mereka.
            Nomor 0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran – pikiran dan anggapan – anggapan yang hampir sama denga pikiran yang terletak dalam lingkungan nomor 1, hanya bedanya terdiri dari pikiran – pikiran dan anggapan – anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakt dan Negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap masa bodoh. Contoh – contohnya adalah : anggapan seorang pelajar Indonesia yang tak pernah keluar negeri; tentang Negara Amerika, anggapan seorang pegawai rendahan di suatu departemen di Jakarta tentang kota Kopenhagen, dan sebaliknya.
            Pada bagan psiko-sosiagram, daerah lingkaran nomor 4 dibatasi oleh garis yang digambarkan lebih tebal daripada yang lain. Garis itu menggambarkan batas dari alam jiwa individu yang dalam ilmu psikologi disebut personality atau “kepribadian”. Sebagian besar dari isi jiwa manusia (termasuk yang telah didesak ke dalam daerah tak sadar dan sub sadar), sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang adat –istiadat dan kebudayaannya, sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang lingkungan, dan sebagian besar dari nilai budaya dan norma – norma yang dianutnya, menurut ilmu psikologi barat terkandung dalam kepribadian manusia.
            Menurut Francis L.K.Hsu, mahluk manusia masih memerlukan suatu daerah isi jiwa tambahan untuk memuaskan suatu kebutuhan rohaniah yang bersifat fundamental dalam hidup manusia. Daerah isi jiwa tambahan terhadap lingkaran – lingkaran 7,6,5 dan 4 yang menggambarkan kepribadian manusia tadi adalah daerah lingkaran 3. Hubungan yang berdasarkan cinta dan kemesraan dan juga rasa untuk bias berbakti secara penuh dan mutlak, merupakan suatu kebutuhan fundamental dalam hidup manusia. Tanpa adanya tokoh – tokoh orang atau benda – benda kesayangan, tanpa Tuhan, tanpa ide –ide atau ideology – idelogi yang bias menjadi sasaran dari rasa kebaktian mutlak yang semuanya menempati daerah lingkaran nomor 3 dalam alam jiwanya, hidup kerohanian manusia tidak akan bias seimbang – selaras. Manusia yang tak mempunyai semuanya itu akan merupakan manusia yang sangat menderita karena ia kehilangan mutu hidup, kehilangan arti hidup, dan kehilangan landasan dari rasa keamanan murni dalam hidup. Manusia seperti itu sering akan memilih jalan ke luar dari penderitaan dengan bunuh diri.
            Konsep yang dapat dipakai sebagai landasan untuk mengembangkan konsep lain itu, menurut Francis L.K.Hsu adalah konsep Jen dalam kebudayaan Cina, yaitu manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian.
            Usul Francis L.K.Hsu, agar para ahli psikologi tidak hanya memakai konsep barat mengenai kepribadian itu, tetapi juga memperhatikan unsur hubungan mesra dan bakti itu. Dalam konsep Jen, manusia yang selaras dan berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara diri kepribadiannya dengan  lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan sekitarnya yang paling dekat dan paling serius, kepada siapa ia dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan dan baktinya.
            Daerah lingkaran no 4 dan 3 yang dibedakan dari yang lain dengan garis – garis arser yang sedikit memasuki daerah lingkaran no 5 dan no 2 juga menggambarkan konsep Jen atau alam jiwa dari “manusia yang berjiwa selaras” itu. Kedua lingkaran itu adalah daerah – daerah dalam individu yang ada dalam suatu keadaan psikologi yang oleh Hsu disebut Psychological homeostatis.
            Banyak orang masih sering mempersoalkan perbedaan anatar kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur. Padahal konsep itu berasal dari Eropa Barat dalam zaman ketika mereka berexoansi menjelajahi dunia, menguasai wilayah luas di Afrika, Asia dan Oseania, dan memantapkan pemerintah – pemerintah jajahan mereka dimana – mana. Semua kebudayaan di luar kebudayaan mereka di Eropa Barat disebutnya kebudayaan Timur, sebagai lawannya kebudayaan mereka sendiri yang mereka sebut kebudayaan Barat.
            Orang – orang yang sering mendiskusikan kontras antara konsep tersebut secara popular, bisanya menyangka bahwa Kebudayaan Timur lebih mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran preologis, keramahtamahan, dan gotong royong. Sedangkan Kebudayaan Barat lebih mementingkan kebendaan , pikiran logis, hubungan asas guna(hubungan hanya berdasarkan prinsip guna). Dan individualism.
Berikut ini dipaparkan bagan mengenai psiko-sosiagram manusia sebaaimana diuraikan di atas menurut Prof. Dr.Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul kebudayaan, mentalitas dan pembangunan.












           
              
D.    PENGERTIAN KEBUDAYAAN
            Apabila kita berbicara tentang kebudayaan, maka kita langsung berhadapan denga pengertian istilahnya. Pengertian menyangkut bermacam – macam definisi yang telah dipikikan oleh sarjana – sarjana social budaya diseluruh dunia.
            Dua orang antroplog terkemuka yaitu Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski menegmukakan bahwa Cutural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Herkovits memandang  kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus . Walaupun orang – orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran. Pengertian kebudayaan meliputi bidang yang luasnya seolah - olah  tidak ada batasnya. Dengan demikian sukar sekali untuk mendapatkan pembatasan pengertian atau definisi yang tegas dan terinci yang mencakup segala sesuatu yang seharusnya termasuk dalam pengertian tersebut. Dalam pengertian sehari – hari istilah diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari.
            Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah, jadi kebudayaan secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya didalam lingkungannya. Budaya dapat pula diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, mengacu pada pola – pola perilaku yang ditularkan secara social, yang merupakan kekhususan kelompok social tertentu.
            Kebudayaan dengan demikian mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik yang sifatnya material, seperti peralatan – peralatan kerja dan teknologi, maupun yang non – material, seperti nilai kehidupan dan seni – seni tertentu.
            Seorang antropolog yaitu E.B.Tylor (1871) mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut :
            Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan kemampuan – kemampuan lain serta kebiasaan – kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan perkataan lain kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
            Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk masyarakat.

            Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah – kaidah dan nilai – nilai social yang perlu untuk mengatur masalah – masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Didalamnya termasuk misalnya agama, ideology, kebatinan, kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakt. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang – orang yang hidup bermasyrakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan.
            Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berfikir, hal ini amat luas apa yang disebut kebudayaan; sebab semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya, dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berfikir, perasaan juga maksud pikiran.
            Koentjaraningrat mengatakan, bahwa kebudayaa antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.
            A.L Krober dan C. Kluckhon mengatakan, bahwa kebudayaan adalah menifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas – luasnya.
            C.A.Van Peursen mengatakan, bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang – orang, berlainan dengan hewan – hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.
            Kroeber dan Klukhon mendefiniskan kebudayaan; kebudayaan terdiri atas berbagai pola , bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh symbol – symbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok – keolompok manusia, termasuk didalamnya mewujudkan benda – benda materi, pusat eensi kebudayaan terdiri atas tradisi dan cita – cita atau paham, dan terutama keterikatan terhadapan nilai – nilai.
            Secara praktis bahwa kebudayaan merupakan system nilai dan gagasan utama (Vital).

            Sistem nilai dan gagasan utama itu dihayati benar – benar oleh para pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu, sehingga mendominasi keseluruhan kehidupan para pendukung itu, dalam arti mengarahkan tingkah laku mereka dalam masyarakatnya. Dapat dikatakan pula, bahwa system nilai dan gagasan utama itu memberikan pola untuk bertingkah laku kepada masyarakatnyam atau dengan kata lain, member seperangkat model untuk bertingkah laku.
            Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga system kebudayaan secara terperinci, yaitu system ideology, system social dan system teknologi.
            Sistem ideology meliputi etika, norma, adat istiadat, peraturan hokum yang berfungsi sebagai pengarahan untuk system social dan berupa interpretasi operasional dari system nilai dan gagasan utama yang berlaku dalam masyarakat.
            Sistem social meliputi hubungan dan kegiatan social di dalam masyarakt, baik yang terjalin didalam lingkungan kerabat, maupun yang terjadi dengan masyarakat lebih luas serta pemimpin – pemimpinnya. Pengendalian masyarakat dan pemimpin berkembang dengan nilai budaya dan gagasan utama yang berlaku.
            Sistem teknologi meliputi segala perhatian serta penggunaannya, sesuai dengan nilai budaya yang berlaku. Dalam kebudayaan yang terutama agraris, misalnya dengan sendirinya system teknologi sesuai dengan keperluasn pertanian.
E.     UNSUR – UNSUR KEBUDAYAAN
            Untuk lebih mendalami kebudayaan, perlu dikenal beberapa masalah lain yang menyangkut kebudayaan. Misalnya apa yang disebut dengan unsur. Yang dimaksud dengan unsur disini adalah apa saja sesungguhnya kebudayaan itu, sehingga kebudayaan disini lebih mengandung makna totalitas dari pada sekedar penjumlahan unsur – unsur yang terdapat di dalamnya.
            Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur – unsur besar maupun unsur – unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsure besar seperti umpanya Majelis Permusyawaratan Rakyat disamping unsur – unsur kecil seperti sisir, kancing, baju, peniti dan lain – lainnya yang dijual di pinggir jalan.
            Beberapa orang sarjana, telah mencoba merumuskan unsure – unsure pokok kebudayaan, misalnya Melville J. Herkovits mengajukan pendapatnya tentang unsure kebudayaan. Dikatakannya bahwa hanya ada empat unsur dalam kebudayaan, yaitu alat – alat teknologi, system ekonomi, keluarga dan kekuatan politik. Sedangkan Bronislaw Malinowski mengatakan bahwa unsur – unsure itu terdiri dari system norma, organisasi ekonomi, alat – alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan dan organisasi kekuatan.
            C.Kluckhohn didalam karyanya berjudul Universal Categories ofCulture mengemukakan, bahwa ada tujuh unsure kebudayaan universal , yaitu :
1.      Sistem Religi (system kepercayaan)
            Merupakan produk manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar. Karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama.
2.      Sistem organisasi kemasyarakatan
            Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3.      Sistem pengetahuan
            Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia mengingat – ingat apa yang telah diketahui kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa, menyebabkan pengetahuan menyebar luas. Lebih – lebih bila pengetahuan itu dibukukan, maka penyebarannya dapat dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



4.      Sistem mata pencaharian hidup dan system – system ekonomi
            Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat khidupan manusia secara umum terus meningkat.
5.      Sistem Teknologi dan Peralatan
            Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan mempergunakan alat. Dengan alat – alat ciptaannya itulah manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatang.
6.      Bahasa
            Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan dan akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.
7.      Kesenian
            Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi semata – mata memenuhi kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu pandangan mata yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.
            Cultural –universal tersebut, dapat dijabarkan lagi ke dalam unsur – unsur yang lebih kecil. Disebut kegiatan – kegiatan kebudayaan atau cultural activity Contoh cultural universal pencaharian hidup dan ekonomi antara lain mencakup kegiatan – kegiatan seperti pertanian, peternakan,system produksi, system distribusi, dll. Cultural activity dapat dibagi lagi menjadi unsure –unsur yang lebuh kecil lagi yang disebut trait-complex. Misalnya kegiatan pertanian menetap meliputi unsur – unsur irigasi, system pengolahan tanah dengan bajak, system hak milik atas tanah, dan lain sebagainya. Selanjutnya trait-complex mengolah tanah dengan bajak, akan dapat dipecah – pecah ke dalam unsure – usnur yang lebih kecil lagi, misalnya hewan – hewan yang menarik bajak, teknik mengendalikan bajak, dan seterusnya. Akhirnya sebagai unsure kebudayaan terkecil yang membentuk trait, adalah items contoh, alat bajak terdiri dari gabungan alat – alat atau bagian – bagian yang lebih kecil lagi yang dapat dilepaskan, akan tetapi pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan.
            Masalah lain yang juga penting tentang kebudayaan adalah wujudnya. Pendapat umum mengatakan, bahwa kebudayaan dapat dibedakan dalam dua bentuk wujudnya. Pertama, kebudayaan bendaiah (material) dengan cirri dapat dirasa saja. Kedua, kebudayaan rohaniah (spiritual) denga cirri dapat dirasa saja.
F.     WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :
1.        Kompleks gagasan, konsepm dan pikiran manusia :
            Wujud ini disebut system budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala – kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup. Kalu warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku – buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan. Sekarang kebudayaan ideal juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi micro film dan microfish.
2.        Kompleks aktivitas :
            Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut system social. Sistem social ini terdiri dari aktivitas – aktivitas manusia – manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola – pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat, system social bersifat konkret terjadi disekeliling kita sehari – hari, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasi.
3.        Wujud sebagai benda :
            Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret bias juga disebut kebudayaan fisik, muai dari benda yang diam sampai pada benda yang bergerak.
            Ketiga wujud dari kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak terpisah satu sama lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan member arah kepada tindakan – tindakan dan karya manusia. Baik pikiran – pikiran dan ide – ide, maupun tindakan dalam karya manusia, menghasilkan benda – benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pula pola – pola perbuatannya, bahkan juga cara berfikrnya.
            Semua unsur budaya dapat dipandang dari sudut ketiga wujud masing – masing tadi. Sebagai contoh STMIK / STIE Gunadarma. Sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi, sekolah tinggi tersebut merupakan suatu unsure dalam rangka kebudayaan Indonesia sebagai keseluruhan. Maka oleh karena itu sekolah tinggi dapat merupakan suatu unsur kebudayaan yang ideal, yang pada khususnya terdiri dari cita – cita Sekolah tinggi, norma – norma untuk para karyawan, dosen atau mahasiswanya, tata tertib ujian, pandangan – pandangan baik yang bersifat ilmiah maupun yang popular dan sebagainya. Sebaliknya, STMIK / STIE Gunadarma juga terdiri dari suatu rangkaian aktivitas dan tindakan dimana manusia saling berhubungan atau berinteraksi dalam hal melaksanakan berbagai macam kegiatan. Ada yang member kuliah, ada yang mencatat, ada yang meminjam buku, ada yang mengetik surat, dan sebagainya. Orang dapat juga mengadakan penelitian tentang STMIK / STIE Gunadarma tanpa memperhatikan hal – hal tersebut diatas. Ia hanya memperhatikan Gunadarma sebagai himpunan benda fisik, yang harus diinventarisasi. Itulah sebabnya ia hanya melihat Gunadarma sebagai suatu kompleks gedung – gedung , ruang kuliah, ruang praktekum, deretan buku – buku, sekumpulan komputer dan lainnya.




G.    ORIENTASI NILAI BUDAYA
            Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1.        Hakekat hidup Manusia (MH)
            Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara eksterm ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan   pola – pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”.
2.        Hakekat karya manusia (MK)
            Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda – beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
3.        Hakekat waktu manusia (WM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan yang ada berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.



    








4.        Hakekat alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan  alam dan manusia harus menyerak kepada alam.
5.        Hakekat hubungan manusia (MN)
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertical (orientasi kepada tokoh – tokoh). Ada pula yang berpandangan individualities ( menilai tinggi kekuatan sendiri ).
H.    PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitive yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya.
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh karena itu mengadakan hubungan – hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadi hubungan antar kelompok manusia didalam masyarakt.
Terjadi gerak / perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1.        Sebab – sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2.        Sebab – sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur – jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah lebih cepat.
Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan –penemuan baru , khususnya teknologi dan inovasi.

Perubahan social dan perubahan kebudayaan berbeda. Dalam perubahan social terjadi perubahan struktur social dan pola – pola hubungan social, antara lain, system politik dan kekuasaan, persebaran penduduk, system status, hubungan – hubungan di dalam keluarga.
Perubahan social adalah segala perubahan pada lembaga – lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai – nilai, sikap – sikap dan pola – pola perilaku di antara kelompok – kelompok dalam masyarakat.
Sedangkan perubahan kebudayaan atau akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur – unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur –unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Perubahan kebudayaan ialah perubahan yang terjadi dalam ide yang dimilki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain aturan – aturan, norma – norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga tenologi, selera, rasa keindahan (kesenian), dan bahasa.
Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa – masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat – masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan – hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintah dan sebagainya. Pada saat itulah unsur – unsur masing – masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar – besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :
a      Unsur – unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima,
b     Unsur – unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima,
c      Individu – individu manakah yang cepat menerima unsur – unsur yang baru,
d     Ketegangan – ketengangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut,
1.        Pada umumnya unsur – unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah:
a         Unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya. Contohnya alat tulis menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia diambil dari unsur – unsur kebudayaan Barat.
b        Unsur – unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misalnya radio, computer, telephone yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
c         Unsur – unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur – unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk memperlengkapi pabrik – pabrik penggilingan.
2.        Unsur – unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh masyarakat adalah :
a.    Unsur yang menyangkut system kepercayaan seperti ideology, falsafah hidup dan lain – lainnya.
b.    Unsur – unsur yang dipeljari pada taraf pertama proses sosialisai. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan poko suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagai besar masyarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lainnya.
3.        Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu – individu yang cepat menerima unsur – unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang – orang kolot yang sukar menerima unsure baru. Hal itu disebabkan karena norma – norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali untuk mengubah norma – norma yang sudah demikian meresapnya dalam jiwa generasi tua tersebut.
4.        Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi , selalu ada kelomok – kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang terjadi.
Berbagai factor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :
1.        Terbatasnya masyarakat memilki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang – orang yang berasal dari luas masyarakat.
2.        Jika pandangan hidup dan nilai – nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai – nilai agama.
3.        Corak struktur social suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.
4.        Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur – unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5.        Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
I.       KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hungungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap :
1.        Eksternalisasi , yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
2.        Obyektivitas, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
3.        Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia.


                       


DAFTAR PUSTAKA

1.        file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND...R.../SMI-3.pdf
2.        atrisumantri.blogspot.com/2011/10/manusia-dan-kebudayaan.html
3.        staffsite.gunadarma.ac.id/dimyati/index.php?stateid=download




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar